Alhamdulillah, Pada hari Kamis 5 Oktober 2017. STAI Al-Mawaddah Warrahmah Kolaka telah divisitasi oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Islam (dalam hal ini Dr. Amiruddin Kuba, MA dan Drs. Suradi) untuk peralihan status ke Institut Agama Islam Al-Mawaddah Warrahmah Kolaka. Syarat untuk Alih status dari Sekolah Tinggi ke Institut telah dipenuhi baik dari fasilitas gedung kuliah, Dewan Dosen, Jumlah Program Studi yang sudah 6 (enam), yaitu:

  1. Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI)
  2. Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI)
  3. Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir (IAT)
  4. Program Studi Ekonomi Syariah (EKS)
  5. Program Studi Perbankan Syariah (PBS)
  6. Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI)

Tujuan Alih Status ke Institut Agama Islam Al-Mawaddah Warrahmah Kolaka

Perubahan status adalah konsekuensi logis bagi civitas akademika untuk melakukan jihad ilmiah tanpa henti. Sejatinya, alih status bukan sekedar transformasi secara institusional, tetapi kebutuhan yang sesungguhnya adalah pencapaian akhir dari masyarakat akan tuntutan kualitas Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS). Saat ini, PTKIS mulai tergerus cita-cita luhurnya sebagai kekuatan transformasi bidang science dan sosial-keagamaan di tengah kepungan merosotnya nilai-nilai moral. Titik sentral PTKIS sebagai ruang science dan sosial-keagamaan yang masih mendapat kepercayaan masyarakat merupakan kekuatan dalam pembangunan science dan sosial-keagamaan. PTKIS harus kembali mengokohkan visi misi dan nilai-nilai luhur yang dianutnya. Tidak mudah melakukan upaya tersebut ditengah gempuran pragmatisme yang mempengaruhi lapisan masyarakat. Menjaga kepercayaan publik terhadap PTKIS sebagai pelopor pembangunan science dan sosial-keagamaan menjadi program inti yang secara ajeg harus diupayakan.

secara substansial alih status perguruan tinggi harus diikuti oleh tiga hal pokok. Pertama, merubah paradigma pengajaran ke penelitian. Konsep ini menghendaki bidang penelitian harus menjadi aktivitas utama bagi seluruh civitas academica. Konsep ini akan menumbuhkan semangat meneliti bagi dosen dan mahasiswa, mengasah keahlian meneliti, serta didukung dengan dana yang memadai. Kemudian, dari hasil penelitian seharusnya didesiminasikan dalam kegiatan pengabdian pada masyarakat.

            Kedua, sejalan dengan penguatan penelitian, paradigma pembelajaran harus diubah dari konsep mencari ilmu pada penciptaan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Selama ini proses pembelajaran masih menerapkan fungsi transfer of knowladge, bukan creation of knowladge. Konsep ini sudah saatnya diubah. Jika tujuan kuliah untuk mendaptkan dan mengumpulkan ilmu pengetahuan, mahasiswa pada era digital tidak perlu duduk di bangku kuliah. Dengan fasilitas internet mahasiswa dapat mencari informasi dan ilmu penegtahuan di manapun. Pembelajaran harus base on research yang diorientasikan pada penciptaan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Mahasiswa harus dibekali lebih kuat logika keilmuan sebagai konsep dasar cara berfikir, baik logika deduktif maupun induktif atau cara berfikir yang menekankan pada prosedur pemecahan masalah.

            Ketiga, makna dan visi dosen harus lebih luas, dosen harus dimaknai sebagai fasilitator dan teman sejawat dalam penelitian. Dosen bukan sebagai pusat pembelajaran, tapi mahasiswa. Konsep ini menempatkan bahwa dosen dan mahasiswa setara sama halnya makhluk berkesadaran yang memiliki potensi intelektual tinggi, serta sama hausnya akan ilmu pengetahuan. Orientasi pendidikan yang fokus pada kecerdasan kongnitif tidak akan mampu memenuhi kebutuhan esensial pendidikan. Pendidikan sudah sepatutnya mampu mengembangkan ilmu pengetahuan yang terpatri dalam perilaku positif. Wujud akhir dari pendidikan adalah membentuk karakter didik yang humanis. Nilai-nilai humanis adalah penjaga keharmonisan diri ditengah masyarakat. Dengan basis penelitian yang kuat dan terintegrasi, PTKIS harus memulai inovasi pengembangan ilmu dengan karakter khusus yakni pengembangan keilmuan dalam bidang science, dan sosial-keagamaan.

Ketiga pokok tersebut sepatutnya dapat menjadi titik awal untuk memulai alih status PTKIS secara substantif. Demi mewujudkan hal tersebut, sudah saatnya PTKIS mendesign masa depan melalui perangkat fundamental seperti meredesign rencana strategis, menyusun sistem penjaminan mutu PTKIS sehingga semuanya menjadi terencana, terstandard dan dapat terukur progresnya. Kemudian tidak kalah pentingnya adalah setiap komponen harus melakukan pembacaan ulang terhadap tubuh dan muatan strategis masing-masing, bahkan jika diperlukan harus melakukan reformulasi paradigmatik dalam pengelolaan PTKIS.

PTKIS sebagai home intelectual level atas harus dikelola dengan penuh kesadaran tinggi dengan mengedepankan pembaharuan tekad dan sinergitas civitas akademika untuk menata ulang orientasi PTKIS dengan cara berstrategi, bersikap, dan bertindak untuk kemajuan bersama. Mengelola PTKIS tidak semata tercapai dengan cara biasa akan tetapi membutuhkan lompatan kuantum dan sinergitas yang cukup signifikan. Lompatan secara rasional, kontekstual, berani dengan segala resiko, cermat serta cepat dalam memanfaatkan capaian-capaian pengembangan ilmu pengetahuan. Intinya, alih status adalah hijrah ilmiah yaitu suatu proses perubahan menuju PTKIS yang lebih baik.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *